Tampilkan postingan dengan label Fisiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fisiologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 September 2008

Macam & Jenis Adaptasi Makhluk Hidup - Morfologi, Fisiologi Dan Tingkah Laku Untuk Menyesuaikan Diri

Adaptasi adalah kemampuan atau kecenderungan makhluk hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru untuk dapat tetap hidup dengan baik.

B. Jenis-Jenis Dan Macam-Macam Adaptasi

1. Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Misalnya seperti gigi singa, harimau, citah, macan, dan sebagainya yang runcing dan tajam untuk makan daging. Sedangkan pada gigi sapi, kambing, kerbau, biri-biri, domba dan lain sebagainya tidak runcing dan tajam karena giginya lebih banyak dipakai untuk memotong rumput atau daun dan mengunyah makanan.

2. Adaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Contoh adapatasi fisiologis adalah seperti pada binatang / hewan onta yang punya kantung air di punuknya untuk menyimpan air agar tahan tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama serta pada anjing laut yang memiliki lapisan lemak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin.

3. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya seperti pada binatang bunglon yang dapat berubah warna kulit sesuai dengan warna yang ada di lingkungan sekitarnya dengan tujuan untuk menyembunyikan diri.

Jumat, 12 September 2008

Sistem Osmosis

Osmosis adalah kasus khusus dari transpor pasif, dimana molekul air berdifusi melewati membran yang bersifat selektif permeabel. Dalam sistem osmosis, dikenal larutan hipertonik (larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi), larutan hipotonik (larutan dengan konsentrasi terlarut rendah), dan larutan isotonik (dua larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut sama). Jika terdapat dua larutan yang tidak sama konsentrasinya, maka molekul air melewati membran sampai kedua larutan seimbang. Dalam proses osmosis, pada larutan hipertonik, sebagian besar molekul air terikat (tertarik) ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa melewati membran. Sedangkan pada larutan hipotonik, memiliki lebih banyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran. Oleh sebab itu, dalam osmosis aliran netto molekul air adalah dari larutan hipotonik ke hipertonik.

Proses osmosis juga terjadi pada sel hidup di alam. Perubahan bentuk sel terjadi jika terdapat pada larutan yang berbeda. Sel yang terletak pada larutan isotonik, maka volumenya akan konstan. Dalam hal ini, sel akan mendapat dan kehilangan air yang sama. Banyak hewan-hewan laut, seperti bintang laut (Echinodermata) dan kepiting (Arthropoda) cairan selnya bersifat isotonik dengan lingkungannya. Jika sel terdapat pada larutan yang hipotonik, maka sel tersebut akan mendapatkan banyak air, sehingga bisa menyebabkan lisis (pada sel hewan), atau turgiditas tinggi (pada sel tumbuhan). Sebaliknya, jika sel berada pada larutan hipertonik, maka sel banyak kehilangan molekul air, sehingga sel menjadi kecil dan dapat menyebabkan kematian. Pada hewan, untuk bisa bertahan dalam lingkungan yang hipo- atau hipertonik, maka diperlukan pengaturan keseimbangan air, yaitu dalam proses osmoregulasi.

Pola Osmoregulasi pada Lobster

Charmantier , et.al., (2001) melakukan review paper tentang adaptasi ekofisiologi terhadap salinitas pada seluruh siklus hidup homarid lobster. Homarid lobster adalah hewan air yang siklus hidupnya sangat diperngaruhi oleh komposisi senyawa yang di dalam air. Salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan populasi adalah kemampuan adaptasi pada perubahan salinitas yang terjadi pada lingkungannya. Menurut beberapa literatur, lobster dari genus homarus ini adalah hewan yang hidup di laut dan bersifat stenohaline. Tetapi, beberapa penelitian menemukan bahwa spesies Homarus americanus bisa ditemukan pada daerah estuaria dan muara sungai dimana terjadi arus pasang surut yang bisa menyebabkan perubahan salinitas sesaat. Populasi yang biasa dtemukan di estuaria adalah umunya jantan, hal ini menunjukkan bahwa terjadi perbedaan pola regulasi osmotik pada jantan dan betina. Betina Homarus americanus diketahui bermigrasi dari perairan dalam ke perairan yang dangkal, dimana pergerakan diduga untuk mencari suhu yang tinggi yang sesuai untuk proses reproduksi. Selama masa migrasi ini betina H americanus akan terpapar oleh salintas yang berbeda.

Masa post-larva homarid diduga berada di daerah dangkal, dan dekat pantai dengan suhu yang hangat. Kemungkinan estuaria, juga merupakan tempat settlement postlarva homarid. Keuntungan habitat estuari bagi lobster homarid, selain suhu yang hangat, adalah sebagai tempat persembunyian terutama pada fase larva yang rentan akan predasi.

Lobster akan melakukan strategi adaptasi secara tingkah laku dan fisiologi jika terpapar akan salinitas yang berbeda dari habitatnya. Jika kemampuan untuk menghindar sudah tidak dapat dilakukan lagi maka, strategi fisiologi yang bertanggungjawab akan kesuksesan dalam mempertahankan tekanan osmotik yang ada.

Pola osmoregulasi lobster berubah selama siklus hidupnya. Menurut penelitian Charmantier and Aiken (1987) dalam Charmantier et.al. (2001), embrio lobster tidak bisa melakukan regulasi osmotik. Pada penelitian yang memaparkan embryo yang telah dilepaskan membran telurnya, menemukan bahwa embrio bersifat osmoconformer. Pada air laut yang lebih encer, salinitas 24 ppt, embrio lobster hanya bertahan sampai 1 jam kemudian mati. Tetapi jika embrio tetap berada di dalam membran telur, embrio dapat bertahan hidup sampai 12 jam pada salinitas yang sama. Sehingga disimpulkan membran telur pada embrio lobster merupakan mekanisme pertahanan dari fluktuasi salinitas pada daerah pantai dan estuaria. Selanjutnya setelah menetas, prelarva homarid juga masih bersifat osmoconformer, begitu pula fase larva I, II dan III. Selama fase ini, adaptasi osmotik terjadi tetapi dengan durasi yang pendek yaitu 1 jam. Di lingkungan alami, ini mengindikasikan bahwa larva palnktonik ini bisa melakukan hiper-regulasi dengan periode yang pendek, misalnya sesaat setelah terjadi hujan.

Pola regulasi pada seluruh fase perkembangan H americanus di-ilustrasikan pada gambar 4. Fase awal dimulainya pola regulasi H americanus dewasa, dimulai setelah metamorfosis pada fase larva IV. Fase ini dilalui pada habitat air laut dimana larva bersifat isosmotik terhadap medianya dan bisa melakukan hiper-regulasi jika salinitas menurun. Pola regulasi pada lobster homarus ini menunjukkan bahwa tipe osmoregulasi pada lobster dewasa dimulai setelah metamorfosis dan perubahan kemampuan osmoregulasi menjadi lebih hipe-osmoregulator menyebabkan fase postlarva menjadi lebih berat densitasnya karena jumlah garam dan ion di dalam tubuh lebih besar dari medianya.